Jumat, 05 Juni 2020

Virus Corona, Perekonomian Indonesia Terkena Imbasnya




          Virus Corona atau yang kini dinamakan COVID-19 sudah menjadi fenomena global. Banyak yang mengaitkannya dengan dampak pada ekonomi dunia. Dibalik hal tersebut, tidak hanya negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Indonesia pun juga terkena imbasnya. Terlebih lagi, kebutuhan ekspor dan impor Indonesia sangat bergantung pada negara China, dimana di negara tersebutlah virus  itu berasal.
          Indonesia sering melakukan kegiatan impor dari China dan China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Cina juga merupakan salah satu penyumbang wisatawan terbesar Indonesia. Adanya virus Corona yang terjadi di China menyebabkan perdagangan China memburuk. Hal tersebut berpengaruh pada perdagangan dunia termasuk di Indonesia. Penurunan permintaan bahan mentah dari China seperti batu bara dan kelapa sawit akan mengganggu sektor ekspor di Indonesia yang dapat menyebabkan penurunan harga komoditas dan barang tambang.
          Rantai pasok bahan baku industri manufaktur Indonesia mulai menipis lantaran produsennya di China tidak beroperasi. Pemerintah China sendiri melarang warganya melakukan kegiatan di luar rumah hingga 8 Maret 2020. Dengan begitu, produksi bahan baku yang diimpor ke banyak negara termasuk ke Indonesia pun terganggu. Terlebih lagi terdapat larangan penerbangan pesawat dari China ke Indonesia dan begitupun sebaliknya.
          Berikut adalah data neraca perdagangan Indonesia ke China per Januari 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS).

1.    Ekspor merosot 12,07% menjadi USD 2,24 miliar. Penurunan yang sangat signifikan terjadi pada ekspor minyak dan gas (migas) dan non-migas.
2.    Impor turun sebesar 2,71% menjadi USD 4 miliar. Penurunan yang paling besar terjadi pada komoditas buah-buahan, seperti apel dan anggur. Hal inilah yang menyebabkan harga apel, anggur dan buah yang lain di pasaran melonjak tinggi.
          Wabah virus corona di China juga berdampak pada perdagangan pertanian Indonesia. Selama ini ekspor minyak kelapa sawit merupakan salah satu kontributor ekspor terbesar ke China. Namun bulan Februari 2020, realisasinya hanya mencapai 84.000 ton. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan realisasi di bulan sebelumnya yaitu Januari 2020 sebesar 487.000 ton dan pada periode yang sama tahun 2019 yang mencapai 371.000 ton (finance.detik.com, 17 Februari 2020).
          Dari sisi impor pangan, Indonesia yang memiliki ketergantungan bawang putih dari China, hanya dapat mengimpor bawang putih dari China sebesar 23.000 ton pada Februari 2020. Angka ini turun drastis jika dibandingkan dengan impor tahun sebelumnya yang mencapai 583.000 ton (finance.detik.com, 17 Februari 2020).
          Penurunan harga komoditas dan barang tambang akan berdampak kepada penurunan pendapatan pekerja di sektor tersebut. Karena ekonomi kita masih tergantung pada komoditas dan barang tambang, maka daya beli akan menurun. Jika daya beli menurun, maka tidak ada insentif bagi pengusaha untuk meningkatkan investasinya.
          Jika kita lihat di beberapa pasar tradisional, harga bahan-bahan pangan melonjak naik, akibatnya para pedagang di pasar memutuskan untuk tidak lagi menjual bahan pangan tersebut. Bahan pangan yang harganya melonjak naik seperti bawang bombai dengan harga Rp 250 ribu per/kg yang padahal awalnya hanya Rp 8 ribu per/kg. Selain itu, harga cabai rawit merah juga melonjak dengan harga Rp 50 ribu per/kg yang awalnya hanya Rp 25-30 ribu per/kg.
          Harga telur ayam negeri pun ikut naik. Telur yang biasanya dijual dengan harga Rp 24 ribu per/kg kini menjadi Rp 38 ribu per/kg. Kenaikan bahan pangan ini diperkirakan karena adanya virus corona yang sudah menyerang masyarakat Indonesia.
          Tidak hanya bahan pangan saja, alat-alat perlindungan diri seperti masker dan hand sanitizer juga ikut melonjak karena terjadinya kepanikan di masyarakat. Jika dilihat di online shop,  harga kedua barang tersebut naik berkali-kali lipat dari harga normal.
Dampakpun juga dirasakan di bidang pendidikan. Semua sekolah di Jakarta, Jawa Barat, Banten dan berbagai wilayah lain baik itu TK, SD, SMP, SMA hingga perkuliahan diliburkan sementara selama dua minggu. Para ASN dan beberapa karyawan swasta pun diizinkan untuk bekerja dari rumah tanpa harus pergi ke kantor. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus yang semakin hari semakin meningkat. Masyarakat dihimbau untuk tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Hal ini juga menyebabkan angka produktivitas menjadi menurun, dan minat beli masyarakat menjadi rendah sehingga berakibat pada perputaran keuangan di Indonesia.
Bank Indonesia (BI) mengakui dampak virus korona mulai terasa ke perekonomian Indonesia. Dampak itu bahkan bukan hanya dirasakan sektor riil, tapi juga industri keuangan dalam negeri. Kondisi ini terjadi karena aliran modal asing yang masuk Indonesia menjadi tertunda.
Aliran modal asing yang tersendat membuat pasar keuangan dan pasar saham anjlok. Tak hanya itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga terus terkoreksi karena virus korona. Virus ini berdampak ke sektor riil, pariwisata, investasi, perdagangan, dan sekarang keuangan. (NQ)


Virus Corona, Membuat Perekonomian Dunia Menjerit




Awal tahun 2020 ini dunia sedang dihebohkan dengan adanya Virus Corona. Virus Corona yang kemudian dikenal dengan COVID-19 kini sedang menjadi wabah pandemik global. Virus yang diduga berasal dari hewan ini bermula di Wuhan China, yang akhirnya menyebar ke berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Korea Selatan, Iran bahkan sudah sampai ke Indonesia. Hingga saat ini, negara yang sudah mengkonfirmasi adanya Virus Corona berjumlah 115 negara.
Tidak hanya menyerang dari manusia ke manusia saja, Virus Corona pun juga menyerang perekonomian dunia. Memang awalnya berdampak pada perekonomian China, namun karena negara China merupakan negara eksportir dan manufaktur terbesar di dunia yang juga memiliki kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, negara lain yang bergantung pada China pun juga ikut terkena dampaknya. China menyumbangkan hampir sepertiga pertumbuhan ekonomi global, yang artinya jika ekonomi China terpuruk, maka efek domino akan terjadi, ekonomi negara lain juga akan terpuruk atau bahkan lebih buruk.
China ‘pemegang rekor dunia,’ yakni sebagai produsen dan eksportir manufaktur terbesar, pasar terbesar untuk barang konsumsi dan barang mewah, dan pengimpor minyak mentah terbesar. Pelemahan ekonomi sebesar 0,5 hingga 1 persen tentu akan berdampak luar biasa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2020, penurunan tajam terjadi pada ekspor migas dan non-migas yang merosot 12.07%, hal ini dapat terjadi karena China merupakan pengimpor minyak mentah terbesar, termasuk dari Indonesia. Dari sisi impor juga terjadi penurunan 2.71% yang disumbang turunnya transaksi komoditas buah-buahan.
Pembatasan keluar masuknya barang dari dan/atau ke China kini juga diberlakukan yang membuat perekonomian China menjadi terganggu. Lagi-lagi, mengingat China merupakan negara yang perekonomiannya sangat berpengaruh di dunia, maka hal tersebut pasti juga akan berdampak pada perekonomian negara lain yang menjadi mitra dagangnya.
Di sisi lain melemahnya China juga berarti mengurangi permintaan terhadap bahan baku, bahan mentah atau komponen untuk barang jadi yang diproduksi di China. Penurunan produksi akan mendorong terjadinya kenaikan harga.
Saat ini, China sedang melakukan pembatasan yang akhirnya mempengaruhi beberapa perusahaan besar, seperti Apple, Diageo, Jaguar, Land Rover dan Volkswagen. Dilansir dari Bloomberg Economics, pabrik di China hanya beroperasi 60% hingga 70% dari kapasitas mereka, diakibatkan sepertiga karyawannya masih belum bekerja karena adanya karantina. Hal ini dapat menghambat proses produksi.
Apabila China mengalami penurunan produksi maka rantai pasokan barang global akan terganggu dan dapat mengganggu proses produksi yang membutuhkan bahan baku dari China. Indonesia juga sangat bergantung dengan bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik, komputer dan furnitur, komponen ponsel, baterai, layar, pengeras suara, sampai pemasok utama Apple dan perakit iPhone.
China adalah raksasa industri, termasuk industri smartphone. Ketika pabrik-pabrik China tutup, widget yang masuk ke segala hal mulai dari iPhone Apple hingga mesin konstruksi menjadi lebih sulit ditemukan, dimana iPhone dan Apple adalah produk yang paling laris di dunia, dan kini mereka kehilangan suku cadang sehingga tidak bisa memproduksi untuk sementara waktu. Hal ini menyebabkan negara-negara yang memproduksi smartphone kehilangan pendapatan akibat terhambatnya proses produksi dan distribusi smartphone.
Dengan minimnya bahan baku, banyak perusahaan yang melakukan efisiensi melalui pemutusan hubungan kerja (PHK). Dengan begitu, masyarakat yang terdampak pun tidak lagi memiliki sumber penghasilan. Otomatis, daya belinya pun akan menurun. Beberapa perusahaan mengonfirmasi telah mem-PHK karyawan. Xincao Media, misalnya, menyatakan telah melakukan PHK terhadap 500 karyawan, atau sekitar 10% dari total jumlah pekerja.
Tidak hanya itu saja, akibat dari pabrik yang tutup di China juga berdampak pada toko-toko di China. Toko-toko tersebut terpaksa tutup karena tidak dapat memperoleh barang pasokan, selain itu minat beli masyarakat menjadi berkurang karena mereka dihimbau untuk tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Hal ini mengakibatkan perekonomian di China melemah yang nantinya akan berdampak pada ekonomi global.
Menurut asosiasi produsen makanan China, 93% restoran tutup selama epidemi - juga selama Tahun Baru Imlek yang merupakan perayaan terbesar di China yang bertepatan dengan dimulainya wabah. Sektor ini diperkirakan merugi hingga 500 miliar yuan (sekitar Rp1.000 trilyun) menurut data yang dikumpulkan EFE dari Beijing.
Dalam perhitungan ADB, dampak global akibat virus corona ini akan berkisar US$77 miliar hingga US$347 milar. Angka tersebut setara dengan 0,1% hingga 0,4% PDB global. Secara global, potensi kehilangan ekonomi dunia mencapai US155 miliar dan China sendiri US$103 miliar. Perkiraan terburuknya, secara global, potensi kerugian dunia mencapai US$346 miliar. Angka tersebut berasal dari potensi kerugian China (US$ 236 miliar), negara Asia non-China (US$42 miliar) dan sisanya dari negara-negara lain (US$68 miliar). (NQ)

Coronavirus Mendunia, Indonesia Terancam



Coronavirus Mendunia, Indonesia Terancam

Coronavirus sedang mendunia, saat ini sudah menjadi teror mengerikan dan telah dinyatakan sebagai pandemik global oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Indonesiapun terkena dampaknya. Hingga saat ini, jumlah pasien di Indonesia yang terkena Coronavirus sudah mencapai 117 orang, 8 orang berhasil sembuh dan 5 orang meninggal dunia. Dalam lingkup dunia, angka infeksi Coronavirus mencapai 157.476 orang di 115 negara, angka kematian mencapai 5.845 dan pasien yang sudah dinyatakan sembuh berjumlah 75.953 orang.

Apa itu Coronavirus?
Virus Corona atau 2019 Novel Coronavirus adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian. Virus ini dapat dibilang virus yang berbahaya karena dapat menular dari hewan ke manusia atau bahkan dari manusia ke manusia lainnya. Virus ini tidak pandang bulu, dapat menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui.

Asal Mula Coronavirus
            Coronavirus pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, China tepatnya di pasar hewan dan makanan laut di Kota Wuhan. Orang pertama yang jatuh sakit karena terkena virus ini diketahui merupakan para pedagang di pasar itu. Di pasar grosir hewan dan makanan laut tersebut dijual hewan liar seperti ular, kelelawar, dan ayam dan akhirnya diduga virus Corona ini dipastikan berasal dari ular dan kelelawar.
            Di Indonesia sendiri, virus ini pertama kali terdeteksi di Depok. Pasien yang seorang guru dansa ini awal mulanya berdansa dengan WNA Jepang yang ternyata terjangkit Coronavirus. Setelah itu, pasien ini pun mulai merasakan gejala dari penyakit Coronavirus, dan akhirnya dinyatakan positif terjangkit COVID-19.

Dampak dari Coronavirus
Dampak yang ditimbulkan dari adanya Coronavirus ini cukup banyak. Dari segi kesehatan, sudah sangat jelas bahwa virus ini dapat menyerang siapapun. Bahkan belum ditemukan obatnya. Namun, WHO menjelaskan tingkat kematian dari virus ini terbilang cukup rendah karena Coronavirus hanya menyerang orang-orang yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah. Selain itu, pasien yang meninggal juga bukan hanya karena terjangkit virus Corona, melainkan ada penyakit lain yang diderita.
Menurut Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dampak ekonomi karena wabah virus Corona lebih buruk. Ekonomi Negara China pun yang merupakan negara manufaktur raksasa dunia saat ini telah mengalami penurunan yang sangat drastis. Saat ini, China sedang melakukan pembatasan yang akhirnya mempengaruhi beberapa perusahaan, seperti Apple, Diageo, Jaguar, Land Rover dan Volkswagen. Dilansir dari Bloomberg Economics, pabrik di China hanya beroperasi 60% hingga 70% dari kapasitas mereka, diakibatkan sepertiga karyawannya masih belum bekerja karena adanya karantina.
Untuk sektor perdagangan, tidak hanya Indonesia tapi virus Corona telah berdampak pada dunia. Salah satunya adalah sektor elektronik dalam negeri, yang sejak awal 2020 produksinya menurun karena sulit impor komponen elektronik. Selama ini industri elektronik Indonesia bergantung komponen impor dari China sehingga berdampak pada produksi di dalam negeri.
Di Indonesia sendiri, wabah virus Corona menyebabkan lesunya pariwisata dan perhotelan di Indonesia. Banyak wisata yang ditutup sementara, bahkan waktu untuk mulai beroperasinya pun belum ditentukan. Hal ini menyebabkan pengusaha jasa pariwisata kehilangan keuntungan akibat penutupan, pembatalan atau penundaan perjalanan.
Dampakpun juga dirasakan di bidang pendidikan. Semua sekolah di Jakarta, Jawa Barat, Banten dan berbagai wilayah lain baik itu TK, SD, SMP, SMA hingga perkuliahan diliburkan sementara selama dua minggu. Para ASN pun diizinkan untuk bekerja dari rumah tanpa harus pergi ke kantor. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus yang semakin hari semakin meningkat. Hal ini juga menyebabkan angka produktivitas menjadi menurun.
Di bidang sosial, masyarakat dihimbau untuk tidak bepergian keluar jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Hal ini disebut social distancing, yaitu menjaga jarak sosial untuk sementara waktu yang menyebabkan kurangnya interaksi sosial di masyarakat.
            Dampak paling signifikan yakni gangguan kestabilan ketersediaan pangan di dalam negeri karena akan terjadi gejolak sosial dan ekonomi di dalam negeri. Kelangkaan bahan pokok dan bahan pelindung diri (masker, hand sanitizer, dll) karena ditimbun oleh para spekulan atau barang-barang tersebut diserbu oleh orang-orang yang panik akan virus ini. Hal ini menimbulkan gejolak sosial dan konflik di masyarakat.

Gejala Coronavirus
Infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyebabkan penderitanya mengalami gejala awal yang ringan seperti flu, demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala; dan gejala selanjutnya berupa penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Menurut penelitian, gejala COVID-19 muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah terpapar virus Corona.

Penyebab Coronavirus
Seseorang dapat tertular COVID-19 melalui berbagai cara, yaitu:
1.    Tidak sengaja menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk penderita COVID-19.
2.    Memegang mulut, hidung atau muka tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan air liur penderita COVID-19.
3.    Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19, misalnya bersentuhan atau berjabat tangan.

Virus Corona dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila terjadi pada orang lanjut usia, ibu hamil, orang yang sedang sakit, atau orang yang daya tahan tubuhnya lemah.

Penanganan dan Pencegahan Coronavirus
Infeksi virus Corona atau COVID-19 belum bisa diobati, tetapi ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meredakan gejalanya, yaitu:
1.    Memberikan obat pereda demam dan nyeri.
2.    Menganjurkan penderita COVID-19 untuk mandi air hangat dan menggunakan humidifier (pelembab udara), untuk meredakan batuk dan sakit tenggorokan.
3.    Menganjurkan penderita COVID-19 untuk istirahat yang cukup dan tidak keluar rumah untuk mencegah penyebaran virus, kecuali untuk mendapatkan pengobatan. Usahakan untuk tinggal terpisah dari orang lain untuk sementara waktu. Bila tidak memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar mandi yang berbeda dengan yang digunakan orang lain.
4.    Menganjurkan penderita COVID-19 untuk banyak minum air putih guna menjaga kadar cairan tubuh.
5.    Larang dan cegah orang lain untuk mengunjungi atau menjenguk penderita sampai benar-benar sembuh.
6.    Pakai masker dan sarung tangan bila sedang berada di tempat umum atau sedang bersama orang lain.

Cara pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak tertular adalah:
1.    Hindari bepergian ke tempat-tempat umum yang ramai pengunjung (social distancing).
2.    Hal inilah yang paling penting. Mencuci tangan rutin dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 70% setelah beraktivitas di luar rumah atau di tempat umum.
3.    Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan.
4.    Hindari kontak dengan hewan, terutama hewan liar. Bila terjadi kontak, cuci tangan setelahnya.
5.    Masak daging sampai benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
6.    Menerapkan etika batuk dan bersin. Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu ke tempat sampah.
7.    Hindari berdekatan atau jaga jarak dengan orang yang sedang sakit demam, batuk, atau pilek.

Maka dari itu, mulai dari sekarang terapkanlah gaya hidup sehat baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Jaga kebersihan benda yang sering disentuh, kebersihan badan dan kebersihan lingkungan, bukan hanya agar terhindar dari penyakit Coronavirus saja, melainkan dari penyakit lain yang muncul akibat gaya hidup yang tidak sehat. (NQ)

Minggu, 06 Oktober 2019

Human Interest Photography






My Vector Creation


















Jangan Merendahkan Pekerjaan Penjaga Jalan Lintasan Kereta Api



Agung sedang melaksanakan tugasnya sebagai PJL.

BEKASI, UNSIKANEWS-Setiap kali kereta api melewati lintasan sebidang, Penjaga Jalan Lintasan (PJL) selalu siaga menyalakan alarm dan menutup palang pintu lintasan kereta api. Tujuannya tak lain agar pengendara kendaraan bermotor tidak melintas selama kereta api melewati lintasan demi keselamatan mereka. Selama 24 jam, para PJL bekerja bergantian demi menjaga perlintasan kereta tersebut.
   Salah satunya adalah seorang PJL di Stasiun Bekasi, tepatnya di Jl. Ir. H. Juanda Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi. Agung (32) sudah menjadi PJL selama tiga tahun. Awalnya ia melamar pekerjaan saat sedang dibutuhkannya PJL untuk menjaga lintasan. Ia berasal dari Garut, dan kini tinggal di Cikampek. Ia berangkat kerja dari Garut ke Bekasi dengan menggunakan kereta api. Ia mempunyai dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan.
   Agung menjelaskan, shift dalam menjaga lintasan ini dibagi menjadi tiga, yaitu untuk pagi pada pukul 07.00 – 15.00, untuk sore pukul 15.00 – 23.00, dan untuk malam pukul 23.00 – 07.00. “Untuk pergantian shift-nya biasanya dua hari sekali, karena kalau tiap minggu atau tiap bulan saya bisa jenuh, menghadapi perlintasan yang ramai begini saya bisa stress. Apalagi untuk kereta prioritas, saya sering menghadapinya, karena kereta tersebut tidak boleh tertahan, harus jalan terus.” Ujarnya.
   “Untungnya disini belum pernah ada yang kecelakaan, dan jangan sampai pernah, karena kalau terjadi kecelakaan ribet di sayanya. Jika memang karena kelalaian saya, saya akan dipidana. Satu kepala yang kecelakaan itu lima tahun pidana, jadi misalkan satu angkot yang kecelakaan, hitung saja ada berapa orang di dalam dikali lima tahun. Tapi jika bukan dari kelalaian saya, memang tidak dipidana, namun saya terkena BAP (Berita Acara Pidana) dan itu berlarut-larut, diintrogasi polisi, dicari mana yang benar dan mana yang salah. Intinya dicari kebenarannya.” Ungkapnya menambahkan.
   Setiap pos PJL sudah mempunyai jadwal kereta yang akan lewat, disertai dengan komunikasi antara PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api) dan petugas PJLnya sendiri. Termasuk komunikasi dengan pos-pos pintu sebelah dengan memakai telepon. “Kalo HT (Handy Talky) hanya untuk lingkungan sekitar sini saja, untuk PKD (Petugas Keamanan Dalam) yang membantu saya.” Jelasnya.
   Namun jika ada kereta yang datangnya telat, akan diberitahu lewat pemberitahuan dari PPKA di stasiun, jadi Agung selalu mencatat jika ada jadwal kereta yang telat atau jika ada kereta tambahan yang akan lewat. Dalam melaksanakan tugasnya, Agung dibantu oleh alat pemberitahuan. Alat ini selalu dikontrol setiap harinya oleh pihak kereta api agar tidak rusak. Karena jika rusak akan sangat menyulitkannya. Ia menjelaskan, biasanya yang rusak hanya palangnya saja. Jika rusak, ia memakai palang forbodden yang biasanya ada di setiap perlintasan.
   Perlintasan tempat bekerja Agung ini termasuk 10 perlintasan terpadat se-Jabodetabek. “Jadi memang lumayan rumit mengaturnya. Tergantung dari pengguna jalannya sendiri. Seharusnya kan peraturan dari Dirjen (Direktur Jendral) KAI itu setelah mendengar sirine berbunyi mereka harus berhenti. Namun terkadang pengguna jalan ketika mereka mendengar sirine berbunyi bukannya berhenti malah nambah kecepatan. Mereka merelakan diri mereka tertabrak daripada mereka menunggu beberapa menit demi keselamatan. Ya tidak bisa kita pungkiri, inilah Indonesia.” Ungkapnya.
   Sebagai petugas PJL, Agung menjelaskan “haram” hukumnya untuk membuat kesalahan sedikitpun. Karena ketika diklat (pendidikan latihan), ia diajarkan dan didoktrin untuk tidak boleh membuat kesalahan. Biasanya kesalahan terkecil dan paling fatal dari PJL adalah lupa. Maka dari itu, setiap tiga atau enam bulan sekali selalu diadakan diklat, untuk sertifikasi atau untuk mengingat kembali pelajaran yang sudah lalu. Jadi di kereta api khususnya PPKA, PAP (Pengawas Peron), dan PJL “haram” hukumnya untuk lupa.
   Selama menjalankan tugas sebagai PJL, Agung tidak menggunakan alat pemberitahuan otomatis. Alat pemberitahuan ini dibagi menjadi tiga setelan, yaitu otomatis, semi-otomatis, dan manual. Ia menjelaskan, di lintasan yang ia jaga dengan ramainya kendaraan bermotor yang melintas tidak bisa dipakai alat otomatis ataupun semi-otomatis, karena ketika memakai otomatis, jika ada kereta melintas alarm akan berbunyi sendiri dan palang pintu juga turun sendiri. Jadi jika ada kendaraan yang terjebak di dalam tidak bisa keluar. Begitupun semi-otomatis, bedanya hanya palang pintu tidak menutup secara otomatis, namun untuk menaikkan palang pintunya otomatis naik sendiri. Sedangkan di tempat Agung menjaga lintasan, ia sering melayani kereta lebih dari tiga, sehingga jika memakai semi-otomatis, orang yang melintas akan komplain karena terlalu lama ditutup.
   Agung belum berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil). “Kita disini tergantung pengabdian. Semakin lama kita mengabdi di kereta api, semakin kita dekat menuju PNS. Namun setahu saya 2013 kesini statusnya bukan PNS karena sekarang BUMN ini persero, lebih ke PT (Perseroan Terbatas). Kalau kesempatan diangkat PNS masih ada, setiap pegawai yang mengabdi masih ada kesempatan. Nantinya setiap beberapa tahun ada tes internal. Kita tetap bisa ikut tes tersebut sama seperti yang lain, namun perbedaannya kita direkomendasikan dari kereta api.” Paparnya.
   “Kalau dibilang berat ya memang berat pekerjaan ini. Namun orang-orang hanya memandang sebelah mata. Mereka sering menganggap sepele, hanya duduk, merokok, minum kopi. Namun dibalik tanggung jawabnya itu ya ada pidana di belakang kita yang ngintilin.” Jelasnya. Agung memang harus terus standby di pos, ia tidak diizinkan untuk meninggalkan pos selama jam kerja. Ia hanya boleh berada di 100 meter ke depan dari pos, 100 meter ke belakang, dan 100 meter ke samping kiri dan kanan. Tidak boleh lebih dari itu, selama masih mendengar suara telepon diperbolehkan berkeliling. “Kalau mau ke toilet atau sholat juga harus mencari jam kosong. Itupun juga harus izin dulu ke PPKA. Dibilang ribet ya memang ini tugas kita. Jangankan ke toilet, makan saja terkadang setengah jam baru selesai, sedang makan satu suap sudah ada kereta lagi.” Tambahnya.
   Agung juga menjelaskan alasan mengapa ketika kereta melintas selalu membunyikan klakson. Hal itu menandakan kereta meminta perhatian. “Jadi di kita ada namanya semboyan 35. Setiap kereta yang lewat pasti membunyikan klakson, perhatian bahwa ini lho ada kereta yang mau lewat. Dan saya pun harus nunjuk, namanya tunjuk sebut. Jadi di awal dan di akhir kereta kita tunjuk. Untuk lokomotif kereta itu namanya semboyan 20. Di ujung paling belakang kereta itu ada besi merah kalau siang. Kalau malam lampu warna merah dan hijau itu semboyan 31. Itu wajib kita tunjuk. Sugestinya untuk memastikan bahwa semboyan itu ada. Itupun juga sudah diterapkan di negara lain, seperti Jepang.” Jelasnya.
   Ketika ditanya suka dan duka dalam menjalani pekerjaan ini, Agung menjawab tidak ada sukanya. Ia hanya suka saat mendapatkan gaji saja. Dukanya pun ia paparkan sangat banyak, hampir setiap hari ia rasakan, salah satunya adalah ia sering mendapat makian dari orang-orang yang melintas, dikarenakan ia menutup palang pintu terlalu lama, padahal masih banyak kereta yang mau melintas, dan ketika ia tidak menutup palang pintu juga dicaci maki, padahal masih ada kendaraan di dalam lintasan. “Bahasa binatang keluar, sering dicaci maki, kadang diteriakin, kita dimaki-maki sama mereka, itu udah makanan sehari-hari. Apalagi kebetulan lintas padat begini, itulah makanannya.” Ungkapnya.
   Agung berharap, pekerjaan yang ia lakukan saat ini semakin maju, baik itu dari segi pemasukan gaji maupun tunjangan. Ia ingin pekerjaannya lebih diperhatikan dan dihargai, karena selama ini pekerjaan tersebut dipandang rendah, pegawainya pun diibaratkan pegawai paling rendah di mata masyarakat, khususnya orang-orang yang melintas. “Boleh dibilang rendah. Cuma ya resikonya seperti ini. Berat sekali tanggung jawabnya.” Ujarnya. (NQ)


DOKUMENTASI


                                                                                                                                                      






Contoh Penulisan Berita


Mesin Berdampak PHK di Berbagai Perusahaan Karawang
   Karawang-Ikom Unsika News-Saat ini Karawang dikenal dengan kota yang memiliki UMK tertinggi di Indonesia. Namun, hal ini berdampak negatif pada karyawan, seperti pengurangan karyawan karena penggunaan robot agar biaya produksi perusahaan lebih murah. “Iya kami sudah mendapatkan data dari beberapa perusahaan terkait penggunaan mesin, dan memang sekarang sudah banyak yang memakai sistem ini.” Ungkap Ahmad Suroto sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang, Selasa, (17/9).
   Tren dengan menggunakan sistem robot ini sudah banyak dipakai oleh beberapa perusahaan, khususnya di industri manufaktur sehingga berakibat pada pengurangan tenaga kerja. Menurut Wildan sebagai karyawan yang merasa dirugikan, ia menjelaskan hal ini sangat berdampak buruk bagi kesejahteraan karyawan. “Kami sebagai karyawan yang di PHK akibat penggunaan mesin ini sangat merasakan imbasnya. Harusnya perusahaan lebih meningkatkan lapangan pekerjaan, tidak seperti ini.” Ujar Wildan.
   Sebagai salah satu pimpinan perusahaan di bidang manufaktur yaitu PT Astra Ottopats, Fajar Aridwan menjelaskan pengurangan tenaga kerja ini bukan hanya dikarenakan penggunaan mesin di perusahaan, melainkan juga kinerja mereka yang semakin menurun. “Dalam hal ini kami juga sudah mempertimbangkan dampak yang akan terjadi. Perusahaan memang mendapat penurunan cost produksi, namun juga perusahaan menambahkan cost untuk perawatan mesin itu sendiri. Jadi kami tidak sepenuhnya mengurangi pekerja, perbandingan mesin dengan pekerja 50:50.” Ungkapnya.
   Suroto menjelaskan memang ada perusahaan yang mengurangi tenaga kerja untuk menurunkan biaya produksi. “Seperti di PT Honda Indonesia, mereka hanya mempekerjakan 40 orang karyawan. Sisanya dibantu oleh mesin. Dan mereka memang mendapat keuntungan yang signifikan sehingga bisa menambah gaji tiap karyawan.”
   Untuk menindaklanjuti masalah ini, Suroto menjelaskan akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan terkait penyerapan tenaga kerja. “Kami sudah mengadakan program pelatihan khusus untuk penyerapan tenaga kerja yang lebih baik, yaitu dengan diadakannya BPTK (Badan Pelatihan Tenaga Kerja) Cevest yang bisa diikuti oleh semua masyarakat khususnya di Karawang. Mereka dilatih sampai kualitas bekerja mereka cukup baik. Setelah itu perusahaan akan menyerap tenaga kerja disini.” Ungkapnya. (NQ)